Diskusi bersama Alumni Asrama Wismarini

Dari kiri depan ke belakang searah jarum jam yaitu Non Indira, Non Eny, Non Oyen, Non Joice, Non Indriana, Non Anizar, Non Oce, dan Non Betsy. Non merupakan nama panggilan kepada para penghuni Asrama Wismarini
Dari kiri depan ke belakang searah jarum jam yaitu Non Indira, Non Eny, Non Oyen, Non Joice, Non Indriana, Non Anizar, Non Oce, dan Non Betsy. Non merupakan nama panggilan kepada para penghuni Asrama Wismarini
Dari kiri depan ke belakang searah jarum jam yaitu Non Indira, Non Eny, Non Oyen, Non Joice, Non Indriana, Non Anizar, Non Oce, dan Non Betsy. Non merupakan nama panggilan kepada para penghuni Asrama Wismarini (Foto: Dok. Pribadi)

Asrama Wismarini bukan hanya sekadar tempat tinggal bagi mahasiswi Universitas Indonesia era 1950 hingga 1990-an. Bagi mereka yang merantau, bangunan ini merupakan ruang bertumbuh sekaligus rumah kedua. Di sinilah mereka belajar mandiri, membuat relasi, dan menempa diri mereka di tengah kerasnya hidup di kota Jakarta. Meskipun puluhan tahun telah berlalu, memori Wismarini tetap hidup abadi dalam ingatan para alumninya.

Selasa lalu (12/5), Direktorat Hukum dan Kearsipan menemui para alumni Asrama Wismarini era 1970-an dan 1980-an. Melalui diskusi dan pendekatan prawawancara sejarah lisan, berbagai kisah kehidupan di asrama putri itu kembali menyeruak. Kenangan yang hadir merentang dari kehangatan suasana keseharian, dinamika kehidupan dan aktivitas mahasiswi, kuatnya solidaritas antarpenghuni, hingga kecemasan mereka terhadap kondisi bangunan Wismarini saat ini.

“1001 orang yang tinggal, ya 1001 cerita,” ungkap salah satu alumni ketika menceritakan kehidupan di Asrama Wismarini.

Asrama Putri di Tengah Dinamika Kampus Salemba & Rawamangun

Keadaan jalanan dan gedung asrama mahasiswiUniversitas Indonesia, Wismarini (circa 1960) Foto: Arsip Universitas Indonesia
Keadaan jalanan dan gedung asrama mahasiswi
Universitas Indonesia, Wismarini (circa 1960)
Foto: Arsip Universitas Indonesia

Wismarini merupakan salah satu asrama putri tertua di Indonesia, terutama di lingkungan Universitas Indonesia (UI) pascakemerdekaan. Kala itu, Kampus UI Salemba dan Rawamangun masih menjadi tempat kegiatan akademik UI sebelum sebagian besar fakultas dipindahkan ke Depok. Kehidupan mahasiswi di Salemba dan Rawamangun dikenal sangat dinamis, tak terkecuali di dalam asrama yang menjadi titik temu mahasiswa dari berbagai fakultas.

Penghuni Wismarini datang dari beragam disiplin ilmu, mulai dari kedokteran, farmasi, arkeologi, biologi, hingga sastra. Mayoritas dari mereka merupakan perantau dari luar Jakarta yang menjadi tempat berkumpul dan bagian dari kehidupan sehari-hari di asrama ini selama menempuh studi.

Sebagai perantau, keseharian mereka di asrama menorehkan memori yang sangat mendalam. Tidak hanya berbagi atap, mereka juga saling berbagi cerita, bekal makanan, saling membantu dalam kesulitan ekonomi, hingga bahu-membahu menyelesaikan tugas kuliah. Beberapa alumni mengenang betapa eratnya ikatan emosional antarpenghuni pada masa itu. Bahkan para dosen yang tinggal di sekitar asrama kerap membantu mahasiswi yang kesulitan ekonomi atau rindu kampung halaman. 

Rencana Menghimpun dan Membangkitkan Memori Kolektif

Diskusi Prawawancara Direktorat Hukum dan Kearsipan bersama dengan alumni Asrama Wismarini(Foto: Dok. Pribadi)
Diskusi Prawawancara Direktorat Hukum dan Kearsipan bersama dengan alumni Asrama Wismarini (Foto: Dok. Pribadi)

Dalam diskusi prawawancara sejarah lisan, potret kehidupan penghuni asrama era 1970-an hingga 1990-an kembali diurai. Perbincangan ini merekam lekuk aktivitas keseharian, kehidupan sosial antarpenghuni, perjuangan ekonomi mahasiswa rantau, serta peran Wismarini sebagai ruang solidaritas sekaligus tempat mahasiswa belajar hiudup mandiri dan berkembang. Para alumni juga menjelaskan bagaimana perubahan aturan asrama dari masa ke masa.  

Namun, diskusi tidak hanya mengarsip memori saja. Para alumni turut menaruh perhatian penuh pada kondisi fisik bangunan Wismarini yang kini mulai lekang dan tak terawat. Mereka menaruh harapan besar agar Wismarini tetap lestari sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah UI.

Langkah ini dapat ditempuh lewat dokumentasi sejarah lisan, pengumpulan arsip fisik, hingga pemanfaatan ruang yang tetap menghidupkan nilai historisnya. 

Sebagai langkah konkret, perekaman wawancara bersama alumni lintas generasi akan segera dilaksanakan melalui program Penelusuran Sejarah Lisan. Agenda ini bertujuan untuk menghimpun memori kolektif dan mendokumentasikan rekam jejak penghuni, sekaligus mengokohkan upaya penyelamatan sejarah serta arsip yang berkaitan dengan Asrama Wismarini di lingkungan Universitas Indonesia.

Kamu alumni Asrama Wismarini? Bantu kami menjaga memori kolektif Asrama Wismarini dengan klik tautan di bawah!

Formulir Donor Kenangan Asrama Wismarini

Kontributor: M. Zakki Syaan | Editor: Ahmad Zainudin