Pagi-pagi ke Bandung demi Koran Salemba
Hari itu (13/6) kami berangkat lebih pagi dari biasanya. Kami bergegas menembus sepinya jalanan menuju Stasiun Gambir, Jakarta agar tak ketinggalan kereta menuju Bandung. Tepat saat semburat matahari baru menunjukkan terangnya, kami masuk ke gerbong. Di sela-sela perjalanan, kami berdiskusi menyusun rencana berkunjung ke kediaman Pak Hidayatul Manan—Alumnus Fakultas Hukum UI.
Saya menceritakan tentang Koran Salemba pada kawan, Adinda Putri, penanggung jawab kegiatan hari ini yang disebut Donor Kenangan, program yang bertujuan menampung kenangan fisik tentang UI dari para alumni dan masyarakat.
“Koran Salemba itu koran karya mahasiswa UI yang penjualannya sampai puluhan ribu eksemplar. Angka yang besar buat media mahasiswa saat itu, apalagi pengelolaannya profesional” tutur saya, mengulang perkataan Bapak Manan yang saya wawancarai saat peringatan 50 tahun Koran Salemba di Aula Fakultas Kedokteran UI, Jakarta (14/1).
Selama perjalanan kami mematangkan rencana untuk kegiatan yang singkat itu karena kereta pulang ke Jakarta sudah terjadwal pada siang hari yang sama.

Tentang Koran Salemba
Koran Salemba adalah pers mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang terbit sejak 14 Januari 1976 hingga Mei 1980. Surat kabar ini menjadi wadah aspirasi mahasiswa UI untuk menyuarakan berbagai topik, mulai dari isu politik nasional hingga dinamika kehidupan kampus.
Bapak Hidayatul Manan, pemilik koleksi sekaligus tim redaksi Koran Salemba periode 1978–1980, menuturkan bahwa media ini merupakan produk pers mahasiswa paling berjaya di masanya.
“Pada edisi nomor 49 yang naik cetak Februari 1978, oplah kami sudah mencapai 30 ribu eksemplar. Padahal, jumlah mahasiswa UI saat itu di bawah 10 ribu orang. Artinya, 20 ribu eksemplar sisanya laku terjual di luar kampus, bahkan penggemarnya sampai ke luar negeri,” kenang Pak Manan.
Kesuksesan ini tidak lepas dari pengelolaan Koran Salemba yang profesional. Berbeda dengan pers mahasiswa lain yang terbit tidak menentu, Koran Salemba rilis secara rutin dan konsisten setiap dua pekan–hanya terjeda satu kali. Selain itu, manajemen Koran Salemba juga berkomitmen tinggi menyejahterakan timnya dengan memberikan gaji yang layak bagi para kontributor dan pegawai[1].
Dedikasi Merawat Memori
Kami takjub saat menyaksikan lembar demi lembar Koran Salemba di kediaman Pak Manan. Di tangan sang kolektor, surat kabar bersejarah itu tersimpan sangat rapi. Nyaris tanpa cacat. Lembaran kertas yang menua itu seolah menolak rusak, menjaga setiap jengkal informasi di dalamnya tetap utuh melintasi zaman.
Sebanyak 81 edisi berhasil beliau selamatkan—hampir seluruh dari 88 edisi Koran Salemba. Bagi Pak Manan, beberapa nomor yang hilang bukan akhir dari cerita. Edisi-edisi langka itu, menurutnya, masih terselip aman di tangan alumni UI lainnya.
Siang itu, Pak Manan tidak hanya membuka pintu rumah, tetapi juga gerbang masa lalu. Beliau memamerkan ‘harta karun’ lain: buletin Mahasiswa Menggugat[2], Koran Makara[3], hingga seberkas foto kusam yang merekam kesibukan ruang redaksi Koran Salemba puluhan tahun silam. Tak ketinggalan, deretan buku tebal berisi pledoi mahasiswa UI yang bergulat di meja hijau pada pergolakan era 1970-an.

(Foto: Dok. Arsip UI)

(Foto: Dok. Arsip UI)
Seluruh arsip yang terawat ini adalah bukti nyata dedikasi tanpa batas seorang Hidayatul Manan. Beliau adalah penjaga memori kolektif kampus, perawat jejak-jejak keberanian mahasiswa UI dalam dinamika sejarah Indonesia.
Kedatangan kami ke kediaman beliau juga membawa mimpi yang sama, mengumpulkan kembali serpihan sejarah agar tak lekang oleh waktu dan bisa diakses dengan mudah oleh generasi masa depan.
Niat tulus kami disambut hangat dengan senyuman penuh harap. Kini, Pak Manan menanti kedatangan kami berikutnya—hari di mana lembaran-lembaran berharga Koran Salemba akan diboyong ke Kampus Depok, untuk dirawat dengan penuh takzim.
Penulis: A. Zainudin | Kontributor: Adinda Putri F. | Editor: Ag. Bayu Setyawan
[1] Menurut pengakuan Hidayatul Manan, beliau bisa mendapatkan Rp15.000/dua pekan dari honor Koran Mahasiswa dengan biaya SPP kuliah di UI sekitar Rp10.000–Rp16.000/semester di tahun 1970-an.
[2] Buletin Mahasiswa Menggunggat diterbitkan saat Koran Salemba mengalami pembredelan pada 1978.
[3] Koran Makara terbit setelah Koran Salemba ditutup oleh Departemen Penerangan Orde Baru pada 1980. Namun, surat kabar tersebut hanya terbit satu edisi karena tidak memiliki izin terbit resmi.

