Revolusi Nasional
Selama masa revolusi nasional, Soemantri ikut dalam perjuangan bersenjata dari tahun 1947 hingga 1949 di Yogyakarta. Ia bergabung dalam Corps Mahasiswa (CM) di bawah Markas Besar Tentara. Pada bulan Juni 1948, kesatuan tentara pelajar disatukan ke dalam Tentara Pelajar yang kemudian dilebur ke dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI) di bawah Brigade XVII (Susanto, 1985).
Setelah dilebur dalam Tentara Nasional Indonesia, semua anggota Brigade XVII secara resmi memperoleh pangkat militer. Soemantri sendiri memperoleh pangkat Letnan I (Yunus, 2007, hlm. 19). Pada pertengahan bulan September 1948, Letnan Soemantri dan satuannya mendapat tugas ke Blitar. Namun, kereta mereka dicegat oleh simpatisan PKI (Partai Komunis Indonesia) di Madiun saat perjalanan pulang ke Yogyakarta. Soemantri kemudian dibawa dan dimasukkan ke dalam penjara (Yunus, 2007, hlm. 20—21), lalu bebas setelah Pasukan Siliwangi berhasil menguasai Madiun.
Dalam perang gerilya menghadapi Agresi Militer II, Soemantri kerap bertemu dengan A.H. Nasution yang saat itu bertugas sebagai Panglima Komando Jawa—komando tersebut berbasis di lereng Gunung Merapi. Ketika Belanda meninggalkan Yogyakarta, Nasution menunjuk Soemantri sebagai ajudannya. Setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Republik Indonesia pada 27 Desember 1949, Soemantri memilih untuk tidak kembali ke Angkatan Darat dan melanjutkan kuliahnya.
Pada awal tahun 1950, Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Kantor Urusan Demobilisasi Pelajar (KUDP) menyediakan beasiswa belajar ke luar negeri bagi tentara pelajar yang berjuang dalam perang kemerdekaan (Markas Besar TNI, 2000). Soemantri berhasil mendapatkan beasiswa dari Angkatan Darat untuk melanjutkan studi ke Belanda setelah mengikuti ujian seleksi. Ia berangkat ke Belanda pada November 1950 bersama dengan tujuh orang lainnya.