“Banyak penghuni yang ikut berdemonstrasi dan kegiatan akademik di kampus berhenti.”
Sejarah Pendirian Wismarini
Berdasarkan catatan UI[1], Asrama Mahasiswi Wismarini didirikan atas desakan organisasi perempuan bernama Pushpamala. Asrama ini diresmikan pada tahun 1955, tepatnya 10 tahun setelah kemerdekaan Indonesia.
Asrama memiliki 5 blok bangunan hunian tiga tingkat, yang kita sebut Flat A, B, D, E, dan F. Flat A merupakan perumahan khusus untuk para dosen. Selain itu, disediakan pula ruang tamu yang cukup luas—dilengkapi dengan piano—dan aula yang cukup besar. Ada pula bangunan dapur yang cukup besar, namun saya hanya melihatnya berfungsi beberapa bulan, yang kemudian ditutup. Di belakang bangunan utama ada perumahan untuk beberapa pegawai asrama, serta fasilitas untuk mencuci pakaian dan menyetrika. Terus terang, selama saya tinggal, saya belum pernah mendatangi semua fasilitas yang ada di belakang bangunan utama.

Sumber: Arsip Universitas Indonesia (2000)
Menurut saya, fasilitas tempat tinggal untuk mahasiswi sangat nyaman. Setiap orang memperoleh satu kamar yang dilengkapi tempat tidur komplit, lemari pakaian, meja belajar, rak buku, serta tidak lupa cermin besar untuk mahasiswi bersolek. Ditambah lagi, ada rak untuk menjemur handuk di teras. Mengenai kebersihan asrama—termasuk kebersihan setiap kamar—UI menyediakan bibik-bibik dan tukang kebun. Selain itu, disediakan pula penjaga yang bersiaga melayani mahasiswi selama 24 jam. Untuk keperluan administrasi dan urusan lainnya, terdapat unit tata usaha khusus beserta jajarannya. Seingat saya, semua orang yang bekerja di asrama tersebut adalah pegawai UI yang diangkat sebagai pegawai negeri. Untuk keperluan kuliah, UI menyediakan bus yang mengantar-jemput mahasiswi dari asrama ke kampus Salemba dan Rawamangun, maupun sebaliknya, pada pagi dan siang/sore hari.
Kenyamanan fasilitas yang disediakan oleh Asrama UI Wismarini pada masa itu merepresentasikan tingginya perhatian negara terhadap pendidikan. Hal ini patut disorot, meskipun kita mengetahui bahwa mahasiswi yang tinggal di asrama tersebut hanya sebagian kecil dari keseluruhan mahasiswi UI. Padahal, jika memikirkan kondisi ekonomi negara yang baru berumur 10 tahun dan belum dapat dikatakan mantap serta makmur, sektor pendidikan untuk meningkatkan intelektualitas generasi muda telah memperoleh perhatian yang relatif tinggi. Meskipun tidak berkaitan langsung dengan Asrama Wismarini, perlu saya sampaikan bahwa sampai dengan tahun 1962, negara memberikan kupon khusus berupa keringanan pembelian buku teks (textbook) kepada mahasiswa baru.
Pengalaman Pribadi di Asrama Wismarini
Saya masuk asrama tahun 1964, yang berarti asrama tersebut sudah berumur 9 tahun. Pada saat itu saya berusia 19 tahun dan merupakan mahasiswa tingkat dua (tahun kedua) Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA) UI. Kondisi negara sedang dalam masa sulit, yang berdampak pada berkurangnya beberapa kenyamanan penghuni asrama. Sebagai contoh, dapur asrama berhenti mengepul dan bus asrama tidak lagi beroperasi. Akibatnya, setiap penghuni harus memikirkan urusan konsumsi masing-masing.

Foto: Arsip Universitas Indonesia (1966)

Foto: Arsip Universitas Indonesia (1966)
Banyak penjaja makanan yang mulai masuk ke area asrama. Namun, mereka baru diperbolehkan masuk setelah melalui proses seleksi dan mendapatkan izin dari penjaga asrama. Sebagai informasi tambahan, bagian depan pos penjaga dilengkapi dengan palang pintu untuk mengatur keluar-masuk orang luar. Semua tamu penghuni, penjaja makanan, maupun masyarakat umum yang memiliki keperluan lain harus melapor dan meminta izin terlebih dahulu di pos penjagaan.
Transportasi menuju kampus di Salemba ataupun Rawamangun menjadi tantangan tersendiri bagi kami para penghuni asrama. Jika ingin naik bus umum, kendaraan tersebut biasanya sudah penuh sesak saat melintas di depan asrama. Alternatif lainnya adalah naik oplet ke Kampung Melayu terlebih dahulu, lalu disambung dengan oplet lain menuju Salemba—tentu dengan konsekuensi ongkos yang lebih mahal dibandingkan bus.
Namun, kita layak bersyukur karena di tengah masa sulit tersebut, masih banyak orang baik dan berbudi luhur. Setiap hari, tidak sedikit pengendara mobil pribadi yang bersedia memberikan tumpangan kepada para penghuni asrama untuk pergi ke kampus Salemba. Selain itu, para dosen yang tinggal di Flat A juga selalu bermurah hati memberikan tumpangan. Ternyata di balik masa krisis, ada hikmah manis yang bisa dipetik: rasa tolong-menolong tumbuh subur di antara sesama.
Peristiwa 30 September 1965 (Gestapu) turut menggegerkan seluruh penghuni Asrama Wismarini. Banyak penghuni yang ikut turun ke jalan untuk berdemonstrasi, termasuk saya. Saat itu, kegiatan akademik di kampus terhenti total. Setelah gelombang demonstrasi usai dan terjadi pergantian kepemimpinan dari Presiden Ir. Soekarno ke Jenderal Soeharto, kegiatan kampus tidak serta-merta kembali normal. Penataan kembali aktivitas akademik membutuhkan waktu yang lumayan lama.
Seiring krisis ekonomi yang terus berlanjut dan perkuliahan yang belum berjalan, banyak penghuni asrama memanfaatkan waktu senggang untuk bekerja paruh waktu (part-time) maupun penuh waktu (full-time) di berbagai instansi demi mengisi dompet atau sekadar bertahan hidup. Saya sendiri bekerja sebagai asisten dosen FIPIA UI, mengajar part-time sebagai guru SMA, serta menjadi fisikawan medis di rumah sakit.

Foto: Arsip Universitas Indonesia (1966)

Foto: Arsip Universitas Indonesia (1966)

Foto: Universitas Indonesisa (1966)
Masa pemulihan krisis di setiap fakultas tidaklah sama. Bagi fakultas yang sudah mapan, penataan kembali kegiatan akademis relatif lebih mudah dan cepat. Namun, bagi FMIPA UI (dahulu FIPIA) yang baru berdiri tahun 1961, proses pemulihannya memakan waktu jauh lebih lama. Saya sendiri pada tahun 1968–1969 mendapat kesempatan belajar Fisika Medis di India melalui beasiswa (fellowship) WHO lewat Departemen Kesehatan. Pada tahun ajaran 1970/1971, saya mulai berkuliah kembali hingga akhirnya lulus S1 pada tahun 1973. Tak lama setelah kelulusan tersebut, saya resmi pindah keluar dari Asrama Wismarini.
Ada baiknya saya bercerita sedikit mengenai FIPIA (Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam) yang kelak berganti nama menjadi FMIPA (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam). Fakultas ini berdiri pada tahun 1961 atas usulan Prof. dr. Gerrit Augustinus Siwabessy. Pada saat itu, beliau menjabat sebagai Direktur (Kepala) Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) sekaligus menjabat sebagai Dekan pertama FIPIA UI. Saat saya masuk FIPIA UI pada tahun 1962, belum ada dosen tetap di sana; sebagian besar pengajar merupakan dosen luar biasa yang diperbantukan dari BATAN. Sangat bisa dimaklumi apabila proses pemulihan FIPIA UI pascaperistiwa Gestapu berjalan jauh lebih lambat dibandingkan fakultas-fakultas lain di lingkungan UI.
Sebelum meninggalkan asrama, saya sempat dipercaya menjadi Ketua BPA (Badan Pengawas Asrama)—meski saya agak lupa tahun pastinya. Saya ingat betul, saat awal saya menjabat, kondisi fasilitas air sangat memprihatinkan. Teman-teman dari Flat E dan F setiap pagi dan sore harus ikut mengantre mandi di Flat B atau D. Masalah ini menjadi ujian pertama saya sebagai Ketua Badan Pengurus Asrama (BPA). Beruntung, saya dibantu oleh dua orang teman baik yang bersedia memperbaiki mesin pompa air yang sudah lama tidak berfungsi normal. Berkat keahlian dan kebaikan mereka, air akhirnya bisa mengalir lancar kembali.
Tentu saja, krisis air yang berlangsung lama sempat membuat tingkat kebersihan asrama menurun. Untuk mengatasinya, saya membentuk panitia pengawas kebersihan yang anggotanya terdiri dari pegawai tata usaha. Saya sengaja tidak melibatkan sesama mahasiswa karena proses pengawasan harus dilakukan pada pagi dan siang hari—waktu di mana mahasiswa sedang sibuk beraktivitas di luar. Saya pun menggelar perlombaan kebersihan antarpetugas kebersihan setiap minggunya, lengkap dengan piala/hadiah bagi satu pemenang bulanan. Lomba ini berlangsung beberapa bulan hingga panitia melaporkan bahwa kondisi kebersihan asrama sudah jauh lebih baik. Selain membenahi fasilitas air, kedua teman saya tadi juga memperbaiki instalasi penerangan di aula yang sekian lama terabaikan dan banyak yang padam. Hasilnya sangat memuaskan, aula asrama kembali terang benderang. Sekali lagi, pengalaman ini mengingatkan saya bahwa di masa sulit, selalu ada orang-orang baik yang tulus membantu sesama.
Pengalaman tinggal di asrama dan bergaul dengan banyak teman—berbeda usia, agama, suku, hingga bidang studi; ada yang berkarakter keras, ada pula yang lembut—semuanya memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga. Saya belajar tentang toleransi, kerja sama, serta cara memperkuat mental dan rasa percaya diri. Tentu ada pula hal yang perlu dicermati, seperti tumbuhnya iklim persaingan yang dampaknya berbeda-beda pada tiap individu; ada yang meresponsnya secara positif, ada pula yang sebaliknya.
Bagi saya pribadi, masa-masa tinggal di Asrama Wismarini adalah fase masa muda yang penuh perjuangan karena harus berkuliah sambil bekerja. Tentu waktu istirahat saya jauh lebih sedikit dibandingkan teman-teman yang fokus berkuliah saja. Terus terang, peristiwa Gestapu sangat memengaruhi cara pandang saya terhadap masa depan. Padahal, saat peristiwa itu meletus, usia saya baru 20 tahun. Namun, saya sudah bisa merasakan keguncangan hebat yang melanda bangsa ini.
Mahasiswa yang diperbolehkan kembali berkuliah harus melewati proses penyaringan (screening) terlebih dahulu. Hal yang sama berlaku bagi para pegawai di seluruh instansi pemerintah. Bangsa ini benar-benar terasa terkoyak. Kenyataan pahit tersebut mengubah cara pandang saya dalam belajar. Cita-cita saya membubung tinggi selangit; saya harus terus berjuang. Saat itu saya belum tahu pasti apa yang akan saya perbuat di masa depan, tetapi satu hal yang saya yakini: saya membutuhkan intelektualitas yang tinggi. Ternyata, hasrat untuk menjadi manusia yang bermanfaat—minimal bagi sesama jika belum mampu bagi bangsa—sudah membara sejak muda dan menjadikan perjuangan hidup saya tak pernah usai. Belajar dan terus belajar sepanjang hayat dikandung badan, karena ilmulah yang akan menentukan penentu derajat dari setiap proses perjuangan.
Rutinitas Penghuni Wismarini
Semua mahasiswi penghuni Asrama Wismarini belum menikah, yang berarti semuanya masih berstatus “nona”. Oleh karena itu, para pegawai memanggil nama setiap penghuni dengan didahului kata “Non”, yang merupakan singkatan dari “nona”. Kami sudah terbiasa mendengar pak penjaga berteriak memanggil, “Non [nama penghuni], ada tamu!” Sebagai informasi, kunjungan tamu hanya diperbolehkan sebelum pukul 22.00, kecuali dalam keadaan darurat. Demikian pula bagi penghuni, kami diwajibkan sudah kembali ke asrama sebelum pukul 22.00 karena pintu gerbang utama akan ditutup dan dikunci tepat pada jam tersebut.
Kehidupan sehari-hari di asrama tentu tidak bisa dibandingkan dengan kehidupan bersama keluarga. Setiap orang dituntut untuk mampu hidup mandiri; memiliki banyak teman, tetapi tidak saling menggantungkan diri satu sama lain. Untuk urusan makan, penghuni bisa memasak sendiri atau berkelompok, membeli makanan di luar, ataupun jajan dari penjaja yang masuk ke area asrama. Tidak heran jika kerap terlihat penghuni di lantai 2 dan 3 membeli makanan menggunakan sistem tarik-ulur tali ember dengan penjaja di bawah. Seingat saya, di setiap lantai sebenarnya disediakan fasilitas dapur, tetapi banyak juga penghuni yang memilih memasak di dalam kamar masing-masing.
Untuk kebutuhan komunikasi perkantoran maupun penghuni, hanya tersedia satu saluran telepon yang berada di kantor tata usaha. Penghuni harus datang langsung ke kantor jika ingin menelepon keluar. Sebaliknya, jika ada telepon masuk, pak penjaga akan memanggil dengan berteriak, “Non [nama penghuni], ada telepon!” Tinggal di asrama membutuhkan rasa tenggang rasa yang tinggi; penghuni diharapkan tidak menggunakan telepon terlalu lama, baik saat menelepon maupun menerima panggilan. Namun kembali lagi, tidak semua penghuni memiliki kesadaran yang tinggi. Masalah ini memang terlihat sepele, tetapi menjadi salah satu ujian tenggang rasa dan kesabaran bagi kami.
Setiap bulan puasa, Asrama Wismarini bekerja sama dengan asrama putra Pegangsaan Timur dan Daksinapati Rawamangun untuk menyelenggarakan salat tarawih berjemaah di aula. Selesai salat, kegiatan biasanya dilanjutkan dengan diskusi ringan meskipun hanya sebentar. Menjelang Hari Raya Idulfitri, suasana asrama berubah menjadi sangat sepi karena banyak penghuni yang pulang kampung untuk berkumpul bersama keluarga. Penghuni non-Muslim pun banyak yang memanfaatkan momen tersebut untuk berlibur meninggalkan asrama. Selain saat Idulfitri, suasana asrama juga relatif lebih sepi pada masa libur panjang antarsemester karena banyak penghuni yang berlibur keluar.
Untuk menunaikan kewajiban utama sebagai mahasiswi, yaitu belajar, tinggal di asrama terasa sangat kondusif dan nyaman. Kami bisa belajar di dalam kamar sendirian tanpa gangguan, bergulat dengan buku dan catatan—maklum, zaman itu belum ada mesin fotokopi, apalagi laptop. Setiap penghuni bebas mengatur waktu belajarnya sendiri. Bagi penghuni yang bisa menikmati kenyamanan belajar mandiri dengan tekun, tentu sangat bersyukur mendapatkan kesempatan tinggal di asrama. Meski begitu, bercengkerama dengan teman tetap menjadi rutinitas wajib. Menonton TV bersama—yang kala itu siarannya masih hitam-putih dan sudah berakhir pada pukul 22.00—menjadi salah satu hiburan sederhana yang sangat berkesan.
Pendapat mengenai Keadaan Wismarini Kini
Saya mengunjungi Asrama Wismarini untuk terakhir kalinya saat menghadiri acara reuni penghuni Wismarini pada 24 Agustus 2024. Acara tersebut diselenggarakan di halaman depan dan sebagian ruang tamu. Waktu saya habis di sana untuk bercengkerama dengan teman-teman, sehingga saya tidak sempat memperhatikan kondisi bangunan asrama secara menyeluruh. Namun dari luar, bangunan asrama tampak sudah lama tidak terurus. Tentu saja hati saya sedih melihatnya—tempat yang dahulu sangat saya banggakan, tempat gemblengan bagi kader-kader muda pewaris masa depan bangsa.
Jika ditanya apa yang sebaiknya dilakukan terhadap aset UI yang besar dan berharga tersebut, saya jujur tidak memiliki jiwa bisnis. Di benak saya, yang selalu berkobar hanyalah bagaimana cara memberikan bekal kemampuan kepada kaum muda demi mempersiapkan kesejahteraan hidup mereka, dan lebih jauh lagi agar mereka dapat berkontribusi bagi kesejahteraan bangsa.
Bagaimana jika UI memanfaatkan Asrama Wismarini untuk kegiatan sosial, seperti memberikan pelatihan berbagai keterampilan bagi anak muda? Misalnya pelatihan di bidang kesenian, pertukangan, jahit-menjahit hingga fashion, perbengkelan, tata boga, pariwisata, dan keterampilan lainnya. Tentu saja pada tahap awal, UI memerlukan dana yang cukup besar. Semoga pihak UI menyukai gagasan ini, sehingga selain berfungsi menyiapkan kader berintelektual tinggi, UI juga turut melahirkan tenaga kerja terampil yang mampu memenuhi kebutuhan bangsa (nation demand).
Penutup
Kenangan tinggal di Asrama Wismarini sangatlah menyenangkan—sebuah tempat penggemblengan dan tempat perjuangan di masa muda. Di sanalah saya belajar mengenal teman-teman yang berbudi baik dan tulus, teman-teman yang mampu memberikan inspirasi serta motivasi, sekaligus menjadi wadah untuk melatih keberanian dan kesabaran. Secara pribadi, saya sangat bersyukur kepada Allah SWT. yang telah memberikan kesempatan untuk menikmati tempat belajar yang begitu nyaman dan difasilitasi oleh negara.
Penulis: Djarwani S. Soejoko
Editor: Ahmad Zainudin
__________
[1] Merujuk pada skripsi berjudul Partisipasi mahasiswa Universitas Indonesia dalam masa kampanye pemilihan umum 1982 (Studi asrama mahasiswa Daksinapati dan Wismarini)




