Menurut kamu, apa mahasiswa UI hanya bisa menulis karya ilmiah dan nggak bisa berekspresi lewat puisi? Teater Kolam bisa jadi salah satu saksi bisu betapa progresifnya mahasiswa UI dalam berpuisi!
Sebagai sivitas akademika, mahasiswa memiliki kewajiban menimba ilmu melalui kegiatan belajar-mengajar. Hal ini krusial untuk memperluas wawasan dan memperdalam kompetensi demi kelulusan yang diharapkan. Namun, dunia akademik bukanlah satu-satunya ranah yang digeluti mahasiswa. Kegiatan nonakademik seperti seni dan budaya juga dapat dilakukan untuk mengasah kreativitas, pengetahuan, dan keahlian. Salah satunya adalah menulis, membaca, serta membedah puisi.
Teater Kolam: Panggung Ikonik Mahasiswa UI

Foto: Dok. Pribadi Hasymi Muhammad
Pada era 90-an di lingkungan Universitas Indonesia (UI), Teater kolam merupakan tempat favorit mahasiswa UI khususnya Fakultas Sastra (FS)—kini Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB)—dalam pementasan puisi. Bentuknya yang bulat dan cekung menyerupai amfiteater Yunani kuno menciptakan suasana yang mendukung untuk pertunjukan. Penampil dapat berdiri di titik pusat lingkaran bawah teater, sementara penonton duduk di anak tangga yang mengelilinginya. Lokasinya yang strategis di persimpangan gedung-gedung utama (gedung II, V, dan VII FS UI) membuat Teater Kolam bukan sekedar spot berkumpul, melainkan jantung kreativitas yang selalu hidup dan mudah diakses oleh siapa saja.
Pualam: Panggung Puisi yang Ditunggu Mahasiswa

Foto: Arsip Universitas Indonesia
Selain Kantin Sastra atau Kansas, Teater Kolam menjadi salah satu ikon FS UI tahun 90-an. Tempat ini menjadi tempat sekaligus panggung mahasiswa dalam menyampaikan segala bentuk keresahannya. Panggung paling populer dan ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa UI yang berlangsung di Teater Kolam adalah Petang Kreatif serta Pentas Umum Teater Kolam (Pualam).
Pualam pertama kali digelar sekitar tahun 1993. Para penampil dan tamu acara ini diisi oleh seniman-seniman besar pada zamannya. Nama-nama seperti Gus Mustofa Bisri, Sapardi Djoko Damono, Ikranagara, Ahmadun Yosi Herfanda, Jose Rizal Manua, Hamid Jabbar, Ayatrohaedi, sampai dengan Sutardji Calzoum Bachri pernah unjuk gigi di Teater Kolam FS UI.

Foto: Suara Mahasiswa UI
Dari Pusat Seni ke Kenangan: Teater Kolam ke Teater Daun
Sayangnya, eksistensi Teater Kolam ini tidak bertahan lama. Awal tahun 2000-an, tempat ini dibongkar karena alasan kebisingan yang kerap mengganggu jalannya perkuliahan dan kinerja staf fakultas yang berada di gedung dekanat. Selanjutnya, Teater Kolam dipindahkan ke belakang gedung 9 dan berganti nama menjadi Teater Daun Sirih atau populer disebut Tedun. Kini, lokasi Teater Kolam telah diganti dengan sebuah instalasi seni bernama Monumen Luka.
“Tahun 2001 atau 2002, Teater Kolam dikeruk. Tapi semangat penciptaan puisi dan lainnya dulu sangat semarak di sana,” ungkap Alfian Syahmadan Siagian selaku alumni FS UI angkatan 1991.
Tradisi Puisi yang Tak Pernah Padam

Foto: Arsip Universitas Indonesia
Semarak pentas puisi tetap terlihat pada tahun-tahun setelah pembongkaran Teater Kolam. Seperti pada acara Renungan Kebangsaan UI 2011. Di kesempatan menuju kemerdekaan Indonesia ke-66 tahun, Sapardi Djoko Damono membacakan sajak berjudul “Puisi Kemerdekaan”. Berisi ungkapan-ungkapan faktual muram yang menghiasi kehidupan kita sehari-hari. Namun, seringkali kita anggap normal dan tidak pedulikan.
Di kesempatan yang berbeda, Taufiq Ismail bahkan membacakan puisi dalam upacara pemberian gelar Doktor Honoris Causa bidang Susastra untuknya di tahun 2009. Pada momen itu ia membacakan bait-bait puisi yang ditulisnya pada 1963, sesaat setelah resmi menyandang gelar sarjana dari Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Indonesia.
“Dan kami bersyukur pada Tuhan, yang telah melebarkan gerbang tua ini.
Dan kami bersyukur pada ibu bapa, yang sepanjang malam selalu berdoa tulus dan terbungkuk membiayai kami.
Dorongan kekasih sepenuh hati. Dan kami berhutang pada manusia, yang telah menjadi guru-guru kami. Kepada rakyat, yang membayar pajak selama ini,”
Akar Tradisi: Puisi Mahasiswa UI Sejak 1960-an

Foto: Arsip Universitas Indonesia
Jauh sebelum dekade 90-an dan 2000-an, pementasan puisi sudah mengakar di kalangan mahasiswa UI. Seperti pada tahun 1960-an di Kampus UI Salemba. kegiatan pembacaan puisi bahkan telah menjadi rutinitas mahasiswa-mahasiswa UI di sekitaran Rotunda Fakultas Ekonomi. Menurut penuturan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat sekaligus alumni kedokteran UI, Ascobat Gani, ia bersama teman-temannya senang sekali menulis serta membaca puisi bernada makian ke pemerintahan masa itu. Salah satu puisi menumentalnya berjudul “Siti Balepah”.
“Siti Balepah” menceritakan sosok perempuan fiktif yang terlibat prostitusi karena himpitan ekonomi. Kedua orang tuanya berasal dari golongan petani miskin yang meninggal karena dituding sebagai PKI di tahun 60-an. Akibatnya, Siti Balepah harus hidup dalam kesulitan,” kata Ascobat dalam wawancara dengan kantor Arsip UI.
Eksistensi Kegiatan Puisi Mahasiswa UI Saat Ini
Hingga saat ini, mahasiswa UI aktif berpartisipasi dalam kegiatan puisi melalui acara dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), seperti UKM Teater Sastra, Teater UI, Komoenitas Makara, dan sebagainya. Meski zaman berganti, selera seni berubah, dan panggung-panggung pertunjukan bergeser bentuknya, tetapi semangat mahasiswa dan seniman menyalurkan aspirasi serta kritik tak pernah padam. Sebab, dari panggung-panggung itulah, puisi seringkali menemukan maknanya.
Referensi
Febri, Hermawan. (2011). Analisis terhadap Monumen Luka. Diakses pada 2 Desember 2025 pukul 11.15 melalui https://bocahsastrajawa.blogspot.com/2011/12/monumen-luka-fib-ui-karya-hanafi.html
Gani, Ascobat. (2024, 19 Juni). Wawancara Penelusuran Sejarah Lisan. Kota Depok, Jawa Barat.
Somadikarta, S., Wahyuning, Tri., Irsyam, M., Oemarjati S, Boen. (1999). Tahun Emas Universitas Indonesia. Depok: Universitas Indonesia.
Syahmadan, Alfian Siagian. (2023, 17 Desember). Wawancara di Acara Pentas Puisi Teater Kolam 2023. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Kampus Universitas Indonesia, Depok.
Tim Majalah Alumni UI. (2016). Kisah Tiga Asrama UI Legendaris. Direktorat Pengembangan Karir dan Hubungan Alumni UI. Diakses pada 12 April 2025 pukul 10.51 melalui https://sekar.ui.ac.id/index.php/edisi-20-kisah-tiga-asrama-legendaris
UIVIDEOPEDIA 313 Taufiq Ismail baca puisi ALMAMATER. Kanal Youtube UIVIDEOPEDIA. Diakses pada 23 April 2025 melalui https://youtu.be/NoECkoaCrGY?si=ggxem2s19LhSkHDd
Kontributor Foto
Arsip Universitas Indonesia
Dok. Pribadi Hasymi Muhammad
Lensa Suara Mahasiswa UI


