Peta Masterplan Kampus UI Depok

Masterplan Universitas Indonesia 1984
Sumber: Arsip Universitas Indonesia

Pembangunan “Mahkota Hijau” Hutan UI

Ia tidak hadir begitu saja, tapi terdapat suatu perencanaan matang dalam pengelolaan lingkungan dan terus dipertahankan hingga kini.

Kawasan Hutan UI yang terletak di perbatasan antara Kota Depok dan Jakarta Selatan pada awalnya merupakan kawasan yang didominasi oleh persawahan, perkebunan karet, dan permukiman penduduk. Kondisi tersebut kemudian mengalami perubahan seiring dengan pembangunan Kampus UI Depok dan pengembangan kawasan Hutan UI. Pembangunan Hutan UI dilakukan sebagai bentuk pengembangan hutan buatan yang dirancang untuk menjalankan fungsi hutan kota sekaligus menyediakan ruang terbuka hijau.

Mahkota Hijau bagi Kampus UI

Kampus Universitas Indonesia ingin menghadirkan citra sebagai kampus yang asri, sejuk dan nyaman dengan menampilkan “Mahkota Hijau”-nya Ibukota yang kini kesulitan menemukan ruang terbuka hijau.[1] Sesuai dengan Rencana Induk Kampus UI tahun 1984, lingkungan Kampus UI direncanakan bersuasana pedesaan yang hijau alami, berkepadatan rendah, dengan KDB maksimum 10% yang terdiri dari lokasi pendidikan dan hutan kampus.[2]

 

Menurut Tarsoen Waryono, pengajar di Departemen Geografi FMIPA UI, yang juga dikenal sebagai “Sang Arsitek Hutan Kota, istilah “Mahkota Hijau” lahir sebagai jawaban atas benturan dua kutub isu pembangunan, yaitu ekspansi perkotaan dan konservasi hutan.[3] Secara spasial, Hutan Kota UI bertindak sebagai plasma pembungkus kampus yang posisinya tepat berdiri di titik sentrum atau pusaran inti pembangunan regional. Hutan kampus ini menjembatani dua dinamika yang saling bertolak belakang: di sisi belakang dikelilingi oleh lingkaran kawasan puncak (potret wisata agro Jawa Barat), sementara di sisi depan berhadapan langsung dengan lingkaran megapolitan DKI Jakarta (potret industri urban jasa).

[1] FMIPA. (1997). Atlas Universitas Indonesia. Atlas UI 1997.pdf

[2] Tjahjono, G., Suganda, E., Sigit, D., Sukada, B. A., & Somadikarta, S. (2002). Kampus Universitas Indonesia. Jakarta: UI-Press.

[3] Tarsoen Waryono, “Konsepsi Dasar Perencanaan Pembangunan Mahkota Hijau Hutan Kota Universitas Indonesia,” dalam Kumpulan Makalah Hutan Kota Dalam Rangka Nominasi Anugerah Satyalancana Pembangunan, 2014, (Depok: Unit Pembinaan Lingkungan Kampus UI, 2014), hlm 1.

Pembentukan Tim Penghijauan
Hutan UI

Prof. Dr. Ir. Sambas Wirakusumah
Sumber: Universitas Mulawarman

Dalam menghadapi berbagai permasalahan lingkungan yang terjadi, DKI Jakarta membutuhkan ruang terbuka hijau untuk mengatasi persoalan kualitas udara, air, dan tanah yang semakin menurun. Sejalan dengan kebutuhan tersebut, Pemerintah DKI Jakarta menjalin kerja sama dengan Universitas Indonesia guna mendukung proyek Hutan UI, selaras dengan rencana besar pembangunan Mahkota Hijau UI dan RTH (Ruang Terbuka Hijau) DKI Jakarta. Sebagai lulusan dari Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian Universitas Indonesia, Bogor (Sekarang IPB University) Prof. Dr. Ir. Sambas Wirakusumah ditetapkan secara resmi sebagai ketua tim penghijauan pada tanggal 5 November 1985.

Pelaksanaan Proyek Pembangunan Hutan UI

18 November 1985, Prof. Dr. Fuad Hassan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melakukan penanaman pohon beringin dan membuka selubung papan nama Mahkota Hijau dalam kegiatan awal proyek penghijauan Kampus UI Depok.[1]

[1] Universitas Indonesia. (2000). 50 Tahun Emas Universitas Indonesia, Jilid 3. Jakarta: UI-Press.

April 1986 – Januari 1987 | Penghijauan Pertama Hutan UI

Penghijauan pertama kali dilaksanakan sebagai realisasi pengembangan ruang hijau yang dibiayai oleh Menteri Kehutanan RI melalui Yayasan Sarana Wana Jaya. Penghijauan awal difokuskan pada pemulihan lahan kampus terbuka yang didominasi oleh alang-alang serta penataan jalur jalan kampus. Hingga akhir Desember 1986, program telah berhasil menanam total 18.454 anakan pohon pionir di lapangan seluas 42,5 hektar, sementara sisa puluhan ribu bibit lainnya masih dirawat di area persemaian. Dalam pelaksanaannya, tim menghadapi tantangan berat berupa penurunan kualitas tanah secara fisik dan kimiawi, serangan hama endemik, ancaman kebakaran, hingga penghentian dana pengembangan yang memaksa pengurangan drastis jumlah tenaga kerja lapangan.

Sebagai tahap awal, penghijauan pertama ini menetapkan sasaran-sasaran pengembangan yang dititikberatkan pada dua hal utama:

yang diarahkan untuk menghijaukan tempat-tempat yang sangat kritis, melakukan pembinaan dan pengadaan tanaman jalur jalan, menyelamatkan dan memelihara pepohonan yang sudah ada (terutama hasil Gerakan Penghijauan tahun 1984), serta memelihara tanaman cagar buah.

(1) Rehabilitasi lahan

yang bertujuan untuk memantapkan organisasi, memelihara dan meningkatkan kualitas personel, menertibkan penggarap-penggarap liar, memelihara kerja sama di lingkungan karyawan, serta membina kesadaran partisipasi masyarakat di sekitar lahan kampus.

(2) Langkah-langkah konsolidasi

Rincian jenis pohon yang ditanam:

Jenis Jumlah Umur
Acacia.mangium 32.048 1,0-4,0
Falcataria 7.204 4,0
Eucalyptus alba 4.386 1,5-4,0
Cacia ciamea 50 4,0
Toona sureni 450 1,5
Swietenia mahagoni 1.000 3 tahun
Mimosops elengi 250 3 tahun
Podacarpus spp 85 3 tahun
Callophyllum soulastry 100 3 tahun