Fasilitas Mewah Asrama Wismarini & Pengalaman di Prancis

Rekaman Wawancara Ida Sundari Husen pada 23 Juni 2026

“Konon, pada masa itu, masih ada ‘orang’ yang suka jalan-jalan malam tanpa kepala di halaman asrama.”

 

Dari Bandung ke Rawamangun

Bagi mahasiswa yang datang dari daerah (dalam kasusku: dari Bandung), hal pertama yang diurus adalah mencari tempat kos. Mahasiswa tahun 1957 tentu mengetahui bagaimana kondisi tempat kos di Jakarta pada tahun itu. Aku indekos di Jalan Rawamangun No. 53: rumah gedung, kamar besar, tetapi celakanya penghuninya ada 4 orang. Kami mendapat tempat tidur bertingkat, masing-masing untuk dua orang. Lebarnya nyaris hampir selebar badan. Celakanya lagi, di antara kami yang empat orang itu, hanya aku sendiri yang mahasiswa, sedangkan yang lain karyawan.

Profil Prof. Ida Sundari Husen dan foto ketika menghuni Asrama Wismarini dan ketika 2018.
Foto dan riwayat karier penulis, Ida Sundari Husen.
Sumber: Dok. Pribadi Ida Sundari Husen

 

Ketika pulang ke rumah sehabis bekerja, wajar kalau para karyawan itu beristirahat dan mengisi waktu menunggu makan malam dengan ramai mengobrol. Sementara aku yang mempunyai banyak PR karena kuliahku di bidang bahasa, rasanya kesal dan ingin menangis karena tidak kuasa melarang mereka. Maka, dapat dibayangkan betapa bahagianya hatiku ketika mendapat kesempatan tinggal di Asrama Mahasiswi UI Wismarini pada tahun 1958.

Dimanjakan oleh Fasilitas Asrama Wismarini

Sebagai mahasiswa, rasanya aku tidak pernah begitu dimanjakan seperti ketika menghuni Asrama Wismarini tahun 1958–1960. Saat itu adalah tahun kedua asrama dibuka, jadi masih baru, bersih, dan lengkap fasilitasnya.

Bagaimana tidak: makanan sudah tersedia di ruang makan yang dilengkapi dengan meja makan, piring, sendok, serta garpu yang bagus. Kamar tidur dengan segala perlengkapan yang diperlukan setiap hari dibersihkan oleh para petugas kebersihan. Pagi-pagi, setelah semua sarapan, bus baru telah menunggu dengan setia untuk membawa para penghuni ke Kampus Salemba. Penumpang rit pertama adalah mahasiswa FKUI dengan wajah pucat dan mata merah karena kerja keras semalaman.

Kamarku yang berukuran 3×3 meter dengan balkon, dipasangi sendiri bohlam 100 watt (!). Tidak ada yang menegur. Aku memerlukan kamar yang terang-benderang karena di halaman tetangga sebelah ada pohon beringin besar yang rimbun mengerikan. Konon, pada masa itu, masih ada “orang” yang suka jalan-jalan malam tanpa kepala di halaman asrama (beritanya masuk koran, lho!). Walaupun ada hoax seperti itu, gadis-gadis asrama tetap doyan membaca kisah mengerikan di majalah. Waktu itu sedang terkenal kisah “Sobrah” (cemara untuk membuat sanggul) di majalah Sunda. Mengerikan karena konon rambut yang dijadikan cemara itu asalnya milik orang yang sudah meninggal yang tidak rela rambutnya dijadikan sobrah, sehingga rohnya gentayangan. Terpengaruh oleh kisah mengerikan itu, pada malam harinya para pembaca yang ketakutan pun tidur bertumpuk di satu kamar.

Kebiasaan buruk seenaknya memasang lampu itu kena batunya ketika aku masuk asrama Foyer International des Étudiantes di Paris pada tahun 1961: lampu yang dipakai di kamar tidak boleh lebih dari 40 watt, tetapi untung masih dibolehkan memakai lampu duduk untuk meja tulis. Di samping itu, pagi-pagi sebelum kuliah, aku tidak boleh meninggalkan kamar sebelum merapikan tempat tidur. Peraturan “kejam” itu membekas seumur hidup: sampai sekarang aku selalu merapikan tempat tidur sendiri, meskipun mempunyai 2 orang asisten rumah tangga.

Aku ingat bahwa di Wismarini, piring, sendok, dan garpu kemudian harus dibawa ke kamar masing-masing karena jika ditaruh di ruang makan, satu per satu raib. Adapun makanannya, setiap penghuni mendapat satu porsi makanan dengan lauknya. Ketika ada penghuni yang tidak makan di asrama karena satu dan lain hal, porsinya menjadi “rebutan”. Setelah aku meninggalkan Wismarini, aku dengar bahwa akhirnya para penghuni asrama tidak diberi makan lagi dan harus memasak sendiri. Wah, aku tidak dapat membayangkan keadaan kamar asrama selanjutnya.

Peresmian Asrama Mahasiswi UI Wismarini tahun 1958 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Bahder Djohan.
Peresmian Asrama Mahasiswi UI Wismarini tahun 1958 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Bahder Djohan.
Sumber: Dok. Pribadi Ida Sundari Husen

 

Walaupun bus sudah tersedia, jika keluar asrama di luar jadwal bus, kami harus naik oplet yang langka. Karena itu, kami sering terpaksa liften, yaitu menumpang mobil pribadi tanpa bayar. Mobil yang kutumpangi bervariasi, dari Jeep butut sampai Mercedes yang keren, bahkan pernah liften sampai ke Bandung! Berhubung pada masa itu belum terdengar adanya macam-macam kejahatan seperti zaman now, aku dan seorang penghuni asrama lain (Titi Adipura) sama sekali tidak khawatir menumpang mobil orang tak dikenal. Dan alhamdulillah, kami selamat sampai di Bandung.

 

Kenangan di Asrama Wismarini

Setelah 58 tahun, tidak banyak kenangan lain yang tersisa, apalagi karena aku hanya tinggal di Wismarini selama 2 tahun—keburu mendapat beasiswa ke Prancis. Namun, ada beberapa gambaran yang terpatri dalam ingatan. Misalnya, rasa khawatir dan tidak sabar ketika menunggu lama di balkon sampai di kejauhan terlihat mobil ayahku masuk gerbang membawa “bekal hidup” untuk bulan berikutnya (waktu itu belum musim transfer-transferan uang), membebaskan aku dari masa “paceklik”. Tetapi, aku tetap tidak berani membeli lebih dari 1 porsi rujak dari tukang rujak pikulan yang lewat setiap hari—walaupun harganya cuma Rp5 (!)—karena takut defisit.

Juga terbayang antrean di depan kamar mandi pada pagi hari seraya mendengar alunan merdu suara Hermin Sriwulan dari kamar mandi melantunkan “Smoke Gets in Your Eyes”. Kata-katanya masih aku hafal sampai sekarang:

“They asked me how I knew my true love was true. I of course replied, something here inside could not be denied. They said some day you’ll find all who love are blind. When your heart’s on fire you must realize smoke gets in your eyes…”

Masih terngiang-ngiang pula setiap hari Sabtu atau hari libur, ketika dengan tidak sabar aku menunggu teriakan, “Non Ida Sundari, ada tamu!” yang membuat mataku berbinar-binar dan aku turun terbirit-birit menghampiri sang tamu istimewa—yang selalu setia menunggu walaupun kemudian kutinggalkan selama 2 tahun ke Prancis. Sebutan “Non” adalah singkatan dari “Nona”, yang sampai sekarang selalu dipakai untuk menyebut teman-teman mantan penghuni Asrama Wismarini yang rata-rata sudah menjadi lansia.

Waktu itu belum terbayang apa yang akan aku hadapi dalam hidup ini. Tiba-tiba, tanpa terasa, sampai kini sudah lebih dari 60 tahun waktu berlalu. Tamu yang dulu merupakan pengunjung setiaku di Wismarini telah menjadi ayah dari tiga orang anakku dan kakek dari 8 orang cucu. Namun setelah 38 tahun, ia pergi meninggalkanku sendiri, memenuhi panggilan Ilahi… Untung aku masih memiliki teman-teman seasrama Wismarini, teman bersenda gurau perintang duka sejak masa muda sampai tua. Namun, satu per satu kami pun telah dan akan pergi…

Pengalaman di Perancis dan Pesan untuk Keberlanjutan Asrama Wismarini

Ketika Panitia Reuni Akbar menunjukkan foto Asrama Wismarini tahun 2018, betapa sedih rasanya hati ini. Bagaimana mungkin kompleks asrama yang terdiri atas beberapa gedung bertingkat tiga yang pada zaman itu cukup megah, bisa menjadi bangunan rongsokan di tengah semak belukar. Mengapa fasilitas yang sudah begitu baik dipersiapkan di awal menjadi seperti “rumah hantu”, terbengkalai, disia-siakan, dan tak berguna.

Reuni Alumni Asrama Wismarini pada tahun 2019.
Reuni Alumni Asrama Wismarini pada tahun 2019.
Foto: Dok. Pribadi Ida Sundari Husen

 

Aku jadi teringat asrama-asrama yang pernah kuhuni di Prancis, di beberapa kota besar, terutama Cité Universitaire de Paris, yaitu kompleks asrama mahasiswa berbagai negara (tentu saja tidak ada Asrama Mahasiswa Indonesia). Umurnya mungkin lebih tua dari Asrama Wismarini, tetapi selalu terpelihara rapi sampai sekarang. Saya pernah menginap di Collège Néerlandais (Asrama Belanda), Maison de l’Inde (Asrama India), dan Fondation Avicenne (Asrama Iran).

Mahasiswa makan di luar asrama, di restoran mahasiswa yang tersebar di seluruh Paris (Restaurant Universitaire). Komposisi makanannya sangat bergizi, selalu ada pilihan daging/ayam, sayuran, dan buah-buahan. Dapurnya pun luas, dengan kompor modern, peralatan stainless steel, dan koki berseragam dengan topi putih tinggi seperti umumnya topi koki. Mahasiswa makan di situ dengan membayar memakai karcis makan yang mereka beli di loket khusus, dengan menunjukkan Kartu Mahasiswa dan dengan harga mungkin sepertiga dari harga makanan berkualitas sama di restoran biasa. Dosen pun boleh makan di situ dengan tarif lebih tinggi tetapi tetap lebih murah, cukup dengan menunjukkan Kartu Dosen.

Semua dikelola secara profesional, full-timer, oleh orang yang memiliki latar belakang pendidikan khusus dan mungkin pula dengan pengawasan khusus karena kelihatannya inventaris dan peralatan yang diperlukan tetap terjaga rapi.

Sebenarnya Universitas Indonesia pun tidak kalah dari mereka. Dulu, selain kita mempunyai Asrama Mahasiswi Wismarini, kita memiliki Asrama Mahasiswa Daksinapati dan Pegangsaan Timur. Dengan pengelolaan profesional, mudah-mudahan Asrama Mahasiswa Kampus UI Depok dapat bertahan. Harapan lain yang belum terlaksana adalah penyelenggaraan Restoran Mahasiswa Indonesia untuk menjamin gizi mereka. Dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat, dan tentunya semangat belajar yang lebih tinggi. Rasanya dana cukup besar yang dikeluarkan tidak akan sia-sia demi masa depan bangsa ini.

 

Penulis: Ida Sundari Husen, penghuni Flat B Lantai 2 Asrama Wismarini
Editor: Ahmad Zainudin

Related Posts