Emil Salim: Tentara Pelajar hingga Menteri Lingkungan
Siapa sangka, Emil Salim seorang mantan anggota Tentara Pelajar pernah ditawan pada masa Agresi Militer Belanda kelak menjadi ujung tombak pelestarian lingkungan hidup di Indonesia?
Melalui wawancara eksklusif dalam Program Penelusuran Sejarah Lisan (PSL) Kantor Arsip Universitas Indonesia (18/7/2023), Beliau membuka kembali lembaran-lembaran penting dalam perjalanan hidupnya. Artikel ini menceritakan transformasi dirinya: mulai dari masa muda di tengah gejolak revolusi, pertemuannya dengan sang mentor Soemitro Djojohadikoesoemo yang membentuk pandangannya tentang ekonomi pembangunan, hingga kiprahnya sebagai aktivis mahasiswa di kancah internasional.
Puncaknya, terdapat momen tak terduga di balik penunjukan dirinya—seorang ekonom lulusan University of California, Berkeley—sebagai Menteri Lingkungan Hidup pertama Republik Indonesia oleh Presiden Soeharto. Sebuah amanah yang semula tampak “salah jurusan”, namun justru melahirkan gagasan ekonomi berkelanjutan di Indonesia.
Selama kurang lebih 90 menit, ia mengurai perjalanan hidupnya secara sistematis—dengan ingatan yang terjaga baik dan tutur yang jernih, mencerminkan ketegasan berpikir yang telah terasah sepanjang hidupnya.

Foto: Buku Revolusi Berhenti Hari Minggu
Masa Kecil Emil Salim dan Tertangkap sebagai Tentara Pelajar
Emil Salim lahir pada tanggal 18 Juni 1930 di Lahat, Sumatera Selatan. Masa-masa sekolahnya dihabiskan di beberapa tempat karena pekerjaan ayahnya sebagai pegawai Dinas Pekerjaan Umum Belanda (Hoofd Opzichter BOW/VW) yang memaksa keluarga kecil ini berpindah dari kota satu ke kota lainnya tiap tiga tahun sekali. Awal-awal ia bersekolah di Frobel School dan Belanda Europesche Lagere School (ELS) Banjarmasin, lalu di ELS Lahat, dan berlanjut ke Dai Ichi Syo-Gakko di Palembang.
Pascakemerdekaan,ia bersama para pejuang muda di Sumatera Selatan membentuk Tentara Pelajar (TP) untuk merespons serangan tentara Belanda dan sekutu dalam Agresi Militer Belanda I.
“Pada peristiwa 21 Juli 1947 di Palembang, saya sudah bergabung di antara pasukan Tentara Pelajar untuk menghalau agresi militer. Namun,saya tertangkap dan menjadi tahanan dalam kota (distaatsarrest) yang membuat ruang gerak saya terbatas,” tutur beliau mengingat kembali kronologi penangkapannya itu.

Foto: Nationaal Archief
Melihat kondisi sulit anaknya, Sang Ayah memutuskan mengirim keluar Emil Salim dari Palembang ke Bogor agar bisa kembali bersekolah. Tahun 1948, ia sekolah di SMAN 1 Bogor dan ikut bergabung dalam Program Mobilisasi Pelajar di bawah Korps Siliwangi. Program yang bertujuan menggalang perjuangan rakyat, khususnya dari pelajar dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia, baik dari serangan militer Belanda maupun gerakan separatis (RIS dan DII/TII).
“Banyaknya interaksi dengan rakyat kecil membuat saya memahami betul masalah sosial-ekonomi rakyat Indonesia. Rakyat miskin, lapar, sakit, lemah, tidak bekerja dan tidak sekolah. Dari sini, saya mulai memantapkan hati untuk belajar lebih jauh tentang ekonomi, khususnya ekonomi pembangunan,"' tuturnya.
Pak Soemitro dan Konferensi Mahasiswa Asia-Afrika

Foto: Arsip Universitas Indonesia
Emil Salim berkali-kali menyebut nama Soemitro Djojohadikoesoemo sebagai sosok guru, idola, sekaligus mentornya selama membangun karier akademik maupun politik. Ia sangat terkesima cara dan materi ajar yang Soemitro sampaikan sewaktu pembelajaran di kelas.
Soemitro dianggapnya mengubah cara pandangnya melihat ilmu ekonomi. Gagasan ekonomi pembangunan (development economics) yang Soemitro bawa berbeda 180 derajat dengan gagasan ekonomi klasik yang terus-menerus diajarkan oleh profesor asal Belanda ke para mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE) UI.
“Teori-teori ekonomi klasik yang berkutat pada pasar, pelaku ekonomi, distribusi, ketersediaan barang, dan lain sebagainya tidaklah cukup substansif dalam menjawab persoalan rakyat,” ungkapnya dengan semangat.
Selain cerdas dalam akademik, ia juga aktif mengikuti, mendirikan, bahkan mengetuai beberapa organisasi kemahasiswaan, di antaranya: Ketua Dewan Mahasiswa UI Pertama, Ketua Majelis Mahasiswa Indonesia, Wakil Ketua Delegasi Indonesia dalam Konferensi Mahasiswa Asia-Afrika, Pemimpin Redaksi Majalah Mahasiswa, dan lain-lain.

Foto: Buku Revolusi Berhenti Hari Minggu

Foto: Buku Revolusi Berhenti Hari Minggu
Dari California menjadi Menteri Negara

Foto: Arsip Universitas Indonesia
Lulus dari FE UI, Emil Salim melanjutkan studi S2 dan S3 di Ilmu Ekonomi, University of California, Berkeley. Selama 5 tahun (1959-1964) ia sukses menyelesaikan gelar Ph.D. dengan judul disertasi, “Institusional Structure and Economic Development".
Sepulang dari California, ia kembali menjadi keluarga besar UI dengan statusnya sebagai pengajar tetap di Fakultas Ekonomi. Selain mengajar, ia dipilih untuk membantu Widjojo Nitisastro di Bappenas (Badan Pembangunan Nasional) dan Kementerian dalam penyusunan kebijakan strategis bidang ekonomi. Ia ikut berperan dalam program ambisus Presiden Soeharto, seperti Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) dan Swasembada Pangan.
Karier menterinya berjalan selama 22 tahun (1971-1993). Beberapa posisi menteri pernah ia jabat. Hal paling mengesankan sekaligus mengejutkan adalahketika ia diminta secara langsung oleh Presiden Soeharto untuk mengurus permasalahan lingkungan hidup di tahun 1978. Sektor yang masih asing dan tidak ia kuasai sebelumnya.
Awalnya ia menolak permintaan Soeharto. Sebab, menurut pandangannya seorang ekonom sepertinya tidak akan cukup kompeten mengurus sektor lingkungan. Namun, setelah Soeharto menyakinkannya lebih dalam dan menjelaskan bahwa ini semua demi kemaslahatan rakyat, Emil Salim dengan lapang dada menerima amanah tersebut.
“Bayangkan, saya ini ekonom,belajar ekonomi pembangunan segala macam. Disuruh mengurus lingkungan hidup. Apa tidak pusing dan bengong saya?” ucap Emil disertai senyum lepas.

Foto: Buku Revolusi Berhenti Hari Minggu
Perlahan tetapi pasti, perhatiannya terhadap isu lingkungan hidup semakin membesar dan konsisten. Dalam banyak kesempatan, ia tidak bosan-bosan mengampanyekan dan mendorong kebijakan ekonomi berkelanjutan. Konsep dalam dunia ekonomi yang memandang pembangunan tidak boleh semata-mata mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga wajib memperhatikan aspek pengelolaan sumber daya alam yang bijak, partisipasi masyarakat, serta keadilan antargenerasi.
Kini, di usia 95 tahun (artikel ditulis pada Oktober 2025), Emil Salim tetap aktif menyampaikan ceramah dan mengisi diskusi publik bertema krisis iklim dan kebijakan ekonomi. Ia merasa perlu menyuarakan isu-isu tersebut mengingat kondisi bumi hari ini yang bertambah panas dan penuh polusi akibat kebijakan-kebijakan yang tidak prolingkungan.
Referensi
Aziz, Iwan Jaya. (2010). Pembangunan Berkelanjutan: Peran dan Kontribusi Emil Salim. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Sadli, Muhammad, dkk. (2006). Guru Pinandita: Sumbangsih untuk Prof Djokosoetono, Depok: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Salim, Emil. (2010). Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Salim, Emil, dkk. (2021). 90 Tahun Prof Emil Salim. Jakarta: Yayasan KEHATI.
Tim Penerbitan Buku Badan Otonom Economica FE UI. (2014). Dialog 50 Tokoh FE UI. Depok: Badan Otonom Economica FE UI.
Tim Penulis. (2020). 70 Tahun Emil Salim: Revolusi Berhenti Hari Minggu. Jakarta: Kompas Media Nusantara.
Susanto, Ichwan. (2022). Diakses melalui https://www.kompas.id/baca/tokoh/2022/06/25/sosok-emil-salim-tetap-kritis-tak-terkikis-usia
