Mr. Soepomo: Rektor Kedua UI & Perancang UUD 1945

Poster Memori UI 06 tentang Mr. Soepomo, Rektor Kedua UI

 

Nama Mr. Soepomo mungkin sudah tak asing lagi di telinga sebagian masyarakat Indonesia. Selain dikenal sebagai pahlawan nasional, Soepomo juga arsitek Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 bersama dengan Sukarno dan Mohammad Yamin. Namun, tahukah kamu kalau Soepomo pernah menjabat sebagai Presiden Universiteit Indonesia (UI) yang kedua? Penasaran bagaimana rekam jejak kehidupan Soepomo selama menjabat sebagai Presiden UI? Mari kita berkenalan lebih jauh dengan Mr. Soepomo.

 

Potret Mr. Soepomo, Rektor/Presiden kedua Universitas Indonesia
Prof. Dr. Mr. Raden Soepomo
Foto: Tirto.id
Raden Tumenggung Wignyodipuro, Ayah Soepomo)
Raden Tumenggung Wignyodipuro (Ayah Soepomo)
Foto: Buku Biografi Prof. Mr. Dr. R. Supomo hal. 103

Prof. Dr. Mr. Raden Soepomo atau lebih dikenal dengan sebutan Mr. Soepomo, lahir di Sukoharjo pada 22 januari 1903. Soepomo berasal dari keluarga terhormat dan terkemuka pada masa itu. Ayahnya, Raden Tumenggung Wignyodipuro, merupakan Bupati Surakarta.

Berkat latar belakangnya itu, Soepomo memperoleh kesempatan untuk menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) di Boyolali dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Solo. Soepomo kemudian melanjutkan pendidikannya di sekolah hukum di Batavia (Bataviasche Rechtsschool) dan lulus dengan hasil yang sangat memuaskan pada tahun 1923 (Soegito, 1977: 10).

Setelah lulus, Soepomo menempuh karier pertamanya sebagai pegawai di Pengadilan Negeri Sragen. Pada masa inilah, ketertarikan Soepomo kepada Hukum Adat mulai muncul. Soepomo begitu tekun mempelajari literatur mengenai Hukum Adat dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam adat dan tradisi masyarakat Indonesia.

 

 

 

Disertasi Soepomo tentang Reorganisasi Sistem Pertanian di Surakarta
Disertasi Soepomo tentang Reorganisasi Sistem Pertanian di Surakarta
Sumber: Buku Biografi Prof. Mr. Dr. R. Supomo hal. 110

 

Tidak lama setelah berkarier di Pengadilan Negeri Sragen, Soepomo mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya di Rijksuniversiteit Leiden, Negeri Belanda pada tahun 1924 hingga 1927. Sembari berkuliah, Soepomo juga aktif di organisasi Perhimpunan Indonesia. Ketika jauh dari tanah air, nasionalisme dan patriotisme semakin tumbuh subur dalam diri Soepomo muda. Ia semakin memperdalam pengetahuannya mengenai Hukum Adat di Indonesia.  

Pada tahun 1927, ia memperoleh gelar sarjananya dengan predikat summa cum laude sebagai Meester in de Rechten (Mr). Tidak berselang lama, Soepomo juga berhasil memperoleh gelar Doctor in de Rechtsgeleerdheid usai mempertahankan disertasinya mengenai Hukum Adat di Surakarta dengan judul “De reorganisatie van het agrarisch stelsel in het gewest Surakarta” (Reorganisasi sistem agraria di wilayah Surakarta). Ia bahkan memperoleh penghargaan "Gadjah Mada", penghargaan tertinggi di bidang hukum dari Leidsch Universiteits-Fonds pada masa itu (Somadikarta, dkk., 1999: 162). Gelar Doktor Hukum pun dicapainya dalam usia yang masih begitu muda yakni 24 tahun.

Soepomo dalam pagelaran tari di Paris tahun 1926
Soepomo dalam pagelaran tari di Paris tahun 1926
Foto: Buku Biografi Prof. Mr. Dr. R. Supomo hal. 24

 

Tidak hanya cerdas dalam bidang akademis, Soepomo juga memiliki keterampilan di bidang seni tari dan karawitan Jawa. Sejak kecil, Soepomo sudah dilatih menari oleh seniman kraton yang terkenal kala itu, Pangeran Sumodiningrat. Terbukti beliau berhasil tampil dalam pagelaran Tari Pandji di Paris pada tahun 1926. Selama berada di luar negeri, Soepomo juga terus aktif untuk berlatih menari dan karawitan bersama dengan teman-temannya untuk terus menghidupkan dan memperkenalkan kehidupan bangsa Indonesia.

Sepulangnya ke Indonesia, Soepomo beberapa kali dipercaya untuk menjadi Ketua Pengadilan Negeri di Yogyakarta dan Purworejo, kemudian pindah ke Departemen Kehakiman Batavia. Beliau juga aktif menjadi dosen dan dikukuhkan menjadi Guru Besar Luar Biasa dan Guru Besar dalam Hukum Adat di Sekolah Hukum Batavia (Soegito, 1977; Somadikarta, 1999). Menjelang peristiwa Proklamasi Indonesia, Soepomo aktif menjadi Ketua Panitia Perancang Undang Undang Dasar (UUD) Republik Indonesia. Peran ini di kemudian hari membuatnya dikenal sebagai Bapak Konstitusi Indonesia. Pada Kabinet Presidensial dan Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS), Soepomo juga dipercaya menjadi Menteri Kehakiman.

 

 

 

 

 

Kabinet Indonesia Pertama (Soepomo berada di belakang, di antara Sukarno dan Hatta)
Kabinet Indonesia Pertama (Soepomo berada di belakang, di antara Sukarno dan Hatta)
Foto: Kompas

 

Presiden UI Ke-2, Soepomo
Presiden UI Ke-2, Soepomo
Foto: Koleksi Kantor Arsip UI

 

Pada tahun 1951, Soepomo diangkat menjadi Presiden Universiteit Indonesia (UI) yang kedua untuk periode 1951—1954, menggantikan Ir. Soerachman, presiden sebelumnya yang mengundurkan diri karena sakit. Pada saat itu, tenaga pengajar di UI masih banyak berasal dari Belanda, dan UI mengalami kekurangan tenaga pengajar. 

Oleh sebab itu, Soepomo menekankan bahwa UI harus mulai membuka hubungan secara internasional serta melakukan afiliasi dengan perguruan tinggi di luar negeri. Aspirasi ini kemudian diwujudkan dengan beberapa bentuk kerjasama, seperti dengan International Cooperation Administration, Ford Foundation, UNESCO, serta British Council, yang memberi bantuan baik berupa buku, tenaga pengajar, maupun beasiswa kepada beberapa fakultas di UI. 

Tak ketinggalan, pendidikan rohani dalam universitas juga menjadi fokus dalam masa jabatan Soepomo. Hal ini dapat dilihat dalam pidatonya pada acara Dies Natalis UI Ke-3 di Bandung tanggal 16 Februari 1953. Di mana Soepomo berharap agar tiap-tiap mahasiswa bukan saja menjadi orang gunawan, melainkan juga menjadi orang budiman yang bertanggung jawab.

 

 

Soepomo saat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Inggris
Soepomo saat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Inggris
Foto: Koleksi Kantor Arsip UI

 

 

Tidak hanya di skala nasional, karier Soepomo terus menanjak hingga diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Inggris tahun 1954 sampai tahun 1956. Soepomo juga pernah menjabar sebagai pimpinan lembaga-lembaga internasional, seperti Wakil Presiden International Commission for a Scientific and Cultural History of Mankind & Indonesian Institute of World Affairs.  

Pada tanggal 12 Desember 1958, Soepomo wafat dan disemayamkan di Solo. Atas jasa-jasanya, pada 14 Mei 1965, Soepomo secara anumerta dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Soekarno. Selain itu, Soepomo juga diberi penghargaan oleh Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, serta lembaga Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. 

 

 

 

 

 

Tonton kiprah Mr. Soepomo dalam versi video dengan klik video di bawah ini!

 

Referensi: 

Soegito, A.T. (1977). Prof. Mr. Dr. R. Supomo. Jakarta: Proyek Biografi Pahlawan Nasional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 

Somadikarta, S., Wahyuning, Tri., Irsyam, M., Oemarjati S, Boen. (1999). Tahun Emas Universitas Indonesia Jilid I. Depok: Universitas Indonesia. 

Subroto, Lukman Hadi. (Kompas). (2022). “Kabinet Presidensial, Kabinet Pertama Indonesia”. Diakses melalui https://www.kompas.com/stori/image/2022/07/22/190000679/kabinet-prsidensial-kabinet-pertama-indonesia?page=1 pada 6 Maret 2024.  

Tiga Pidato Pada Dies Natalis Ketiga Dari Universiteit Indonesia Pada Tanggal 16 Pebruari 1953 di Bandung. (1953). Fakultas Sastra UI. 

Tirto.id. “Profil Soepomo”. Diakses melalui https://tirto.id/m/soepomo-wx pada 6 Maret 2024. 

Wibisana, Chris. 12 September 2021. “Sejarah Hidup Soepomo: Penganjur Ide Negara Integralistik”. Diakses melalui https://tirto.id/sejarah-hidup-soepomo-penganjur-ide-negara-integralistik-gjqu pada 6 Maret 2024. 
 

Kontributor: Amanda Lathifah L. P. & Fathia Nabila Qonita | Desain Poster: Muthiah Muthmainnah | Editor: A. Zainudin

 

kontributor